Sejarah Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia

Category: profil Written by Muhammad Rokib Hits: 3840

Menelusuri sejarah jurusan yang 85% alumninya bekerja di dunia pendidikan ini tak lepas dari tokoh utama sekaligus pelaku sejarah pendiri Jurusan Pendidikan Bahasa Indonesia dan pamong Program Studi (Prodi) Pendidikan Bahasa Jepang. Mungkin Anda akan mengira bahwa info ini salah, atau di antara Anda ada yang mengernyitkan dahi seraya berkata “oh ya?, apa hubungannya bahasa Indonesia dengan bahasa Jepang?”. Pertanyaan itu tentu jamak terungkap dari sivitas akademika Unesa era tahun 1990-an dan 2000-an. Namun di mata Joharni Haryono, ketua pertama Jurusan Pendidikan Bahasa Indonesia, pendirian Jurusan Pendidikan Bahasa Indonesia dan pendampingan Prodi Pendidikan Bahasa Jepang merupakan bagian dari kisah hidupnya.

Saat ditemui di rumahnya yang berada persis di depan plakat nama gedung Gema kampus Ketintang, ibu kelahiran 15 November 1933 itu terlihat sedang serius membaca buku. Mendengar ucapan salam diiringi bunyi nyaring ketukan pintu pagarnya yang telah berkarat, ia pun bergegas antusias menghampiri kami seraya menjawab salam. Setelah memperkenalkan diri dan menyampaikan maksud kunjungan kami, ibu beranak satu itu tampak antusias menceritakan pengalamannya 46 tahun silam.

Dengan nada bicara dan gaya bertutur khasnya, ia mulai menceritakan bahwa kali pertama Jurusan Pendidikan Bahasa Indonesia itu berdiri berada di kompleks SMAN 3 Surabaya yang saat itu berada di Jalan Gentengkali (sekarang Kanwil Dinas Pendidikan Jawa Timur). “Saat itu lokasi kampus masih terpencar Mas, kantor pusat berada di Jalan Kayoon (sekarang gedung Indosat), sebagian jurusan di lingkungan FMIPA di kompleks SMAN 1 dan 2 Surabaya, dan sebagian lainnya berada di kompleks sekolah Santa Maria Surabaya Jalan Raya Darmo, sedangkan kantor jurusan-jurusan FBS ada di Jalan Sudirman,” ungkapnya mengenang masa-masa perjuangan merintis IKIP Surabaya setelah secara resmi dan diakui Menteri Perguruan Tinggi dan Ilmu Pendidikan (PTIP), dr. Sjarif Thajeb bahwa FKIP Universitas Airlangga cabang Malang di Surabaya boleh berdiri sendiri menjadi IKIP Surabaya dan melepaskan diri dari FKIP Universitas Airlangga cabang Malang di Malang yang saat itu telah menjadi IKIP Malang.

Setelah mendapat Surat Keputusan Menteri PTIP dan Surat Keputusan Presiden RI tentang IKIP Surabaya, jurusan kebahasaan dan kesastraan termasuk ke dalam Fakultas Keguruan Sastra Seni (FKSS) yang beralamat di Jalan Sudirman 53 Surabaya (seatap dengan FIP) dengan dekan perdana yang dijabat Budi Darma, sastrawan terkenal. Jurusan-jurusan yang ada pada saat itu adalah Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris, Pendidikan Bahasa Jerman, dan Pendidikan Bahasa Indonesia.

Jadi jika ditelusuri Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI) itu mulai berdiri sejalan dengan berdirinya IKIP Surabaya seperti yang tertera pada SK Menteri PTIP Nomor 182 Tahun 1964. Perjalanan merintis jurusan yang kini menjadi salah satu jurusan favorit di Unesa ini tidaklah mudah. Bayangkan kali pertama berdiri, jurusan ini hanya memiliki dua dosen yang sekaligus menjalankan tugas administrasi jurusan. Mereka adalah Joharni Haryono dan Totong Tirtawijaya. Mereka sering bolak-balik dari kampus Sudirman ke kampus Gentengkali. Maklum, kantor jurusan ada di kampus Sudirman sedangkan tempat perkuliahannya di kampus Gentengkali. Perkuliahan harus dijalankan pada sore hari sebab tempat perkuliahan saat itu menumpang di gedung SMAN 3 Surabaya sehingga baru bisa menggunakannya setelah anak SMA pulang sekolah.

Seiring dengan berkembangnya zaman, kebutuhan negara terhadap tenaga pendidik makin tinggi. Hal itu menyebabkan makin banyak mahasiswa calon guru yang mendaftar jurusan PBSI. Melihat fenomena itu, akhirnya didatangkan pasokan pengajar calon guru tersebut atau biasa disebut dosen dari IKIP Malang, kakak kandung IKIP Surabaya. Mereka adalah Mas Harijadi, Gatot Susilo Sumowijoyo, dan Murdiman Haksa Pratista. Dengan tambahan personil pengajar itu, kondisi jurusan lebih stabil, tempat perkuliahannya pun sudah mulai menyatu di kampus bumi Ketintang, sehingga jurusan PBSI makin berkembang pesat hingga muncul lagi tokoh-tokoh baru pejuang jurusan PBSI, seperti yang terdapat pada tabel 1.

 

No Nama Keterangan
1. Drs. Soerono Martorahardjo Rektor IKIP Surabaya 1988-1997
2. Drs. Affan Zaini (alm)  
3. Drs. Imam Koermen (alm)  
4. Dra. Siti Soemarti (almh)  
5. Prof. Dr. Suripan Sadi Hutomo (alm) Guru Besar Pertama JPBSI
6. Prof. Dr. Leo Idra Adriana (alm) Guru Besar Kedua JPBSI
7. Drs. E. Yonohudiyono Dekan FPBS
8. Siti Farizah, B.A.  
9. Drs. Rustamadji (alm)  
10. Drs. Abdullah Payopo (alm)